Membangun Infrastruktur Sistem untuk StartUp
Dedicated Author of LUKMANLAB
Pendahuluan
Digitalisasi saat ini mulai berkembang cukup pesat, teknologi membantu manusia dalam membuat sistem yang diinginkanya. Inisiatif bisa datang dari yang punya Ide dan modal maupun dari pembuat software itu sendiri (software developer).
Ada beberapa macam contoh nyata bagaimana startup itu dibentuk, seperti:
- Sekelompok orang yang berteman dengan baik dalam waktu yang cukup lama dan mulai saling percaya satu sama lain. Mereka mempunyai keluh kesah atau mendapat permasalahan, kemudian dari keluh kesah dan permasalahan ini menjadi sebuah Ide yang mendasari dibentuknya software dan startup.
- Ada juga contoh seseorang yang punya privilege ke badan otoritas tertentu, dia melihat kekurangan aplikasi yang ada dipasar saat ini. Kemudian orang ini memanfaatkan privilege tersebut untuk membuat software yang secara tidak langsung untuk melengkapi kekurangan tersebut. Software tersebut kemudian ditawarkan dan dibeli oleh aplikasi yang membutuhkanya. Akhirnya, software tersebut dipakai oleh banyak masyarakat. Sebagai contoh misalkan ada aplikasi BUMN yang belum disempurnakan dengan fitur e-Wallet. Kekurangan ini dimanfaatkan oleh orang yang punya privilege tersebut, kemudian orang tersebut membuat startup dengan aplikasi e-Wallet yang didukung dengan hak izin yang jelas dan diotorisasi oleh badan otoritas. Kemudian e-Wallet ini ditawarkan dan dibeli oleh BUMN tersebut. Selanjutnya, aplikasi ini dipakai oleh masyarakat luas.
- Contoh bagimana aplikasi Flip didirikan bisa baca ceritanya disini.
Sebagai pengamat, saya coba memahami bahwasanya mereka mulai berfikir bagaimana bisa memperoleh pemasukan sampingan melalui Ide dan bakat yang mereka miliki. Bagus lagi jika ide tersebut dapat direalisasikan dalam bentuk sistem digital / aplikasi yang kemudian dipakai oleh banyak orang maupun sebagai penyempurna aplikasi lain.
Hanya saja, karena melibatkan banyak orang. Biaya untuk membuat aplikasi tersebut sampai bisa diakses oleh banyak orang menjadi mahal / bengkak. Terutama dan khususnya pada pembangunan infrastruktur sistem sebagai dasar aplikasi tersebut berjalan dan diakses oleh banyak orang.
Kadang kasihan juga kepada Founder, jika mereka bertemu dengan orang yang salah maka bisa saja biaya untuk membuat Ide nya terealisasi menjadi bengkak. Bengkak bisa karena pemakaian tools yang tidak terlalu diperlukan untuk saat tersebut atau saran-saran dari developer yang tidak memperhitungkan biaya.
Contoh Desain Arsitektur Server System Minimalis untuk Startup

Catatan
Harus punya prinsip untuk memanfaatkan layanan yang gratis dan cukup banyak dipakai oleh orang-orang.
Dari contoh desain sederhana diatas, kita bisa mengeksplorasi lebih dalam seperti apa fitur-fitur yang ditawarkan oleh cloud provider dan Cloudflare. Jika anda punya internet, komputer atau mini-PC yang ada dirumah. Anda sudah bisa membangun infrastruktur sistem dan dapat diakses dari publik meskipun anda tidak punya IP Publik. Bagaimana Cloudflare memfasilitasi kebutuhuan tersebut, anda bisa membaca artikel Cloudflare Zero Trust Sebagai Solusi Server Tidak Punya IP Publik.
Beralih pada Virtual Machine (VM) / Virtual Private Server (VPS).
- Gunakan tools open-source untuk mendukung kebutuhan aplikasi anda.
- Misalkan, perlu Web Server. Anda bisa menggunakan Apache2, Nginx.
- Jika aplikasi sudah mendukung basis container, bisa menginstal Podman, Docker, atau Kubernetes.
- Jika perlu object storage bisa menggunakan Min-IO.
- Jika perlu database server bisa menggunakan MySQL, PostgreSQL, dan lain-lain.
Jika kita bisa mengoptimalkan open-source tools, biaya yang diperlukan untuk membuat aplikasi dapat diakses publik harusnya tidak terlalu banyak. Dengan desain tersebut biaya yang perlu dikeluarkan untuk membangun infrastruktur sistem untuk startup misalnya, se-pengalaman saya kurang dari 500 ribu sudah termasuk domain (tergantung domainya apa).